Rabu, 20 Agustus 2014

HANYA DALAM 11 TAHUN LAGI INDONESIA AKAN KEHABISAN BBM



Yanin Holison
Muara Teweh, SBO,- Jika dalam 11 tahun kedepan tidak ditemukan lading minyak baru, maka Indonesia akan menghadapi kehabisan  (red. : krisis) Bahan Bakar Minyak (BBM), karena Indonesia akan kehabisan cadangan minyak. Hal ini dikemukan Yanin Holison Hubungan Masyarakat SKK Migas Wilayah Kalimantan  dan Sulawesi (Kalsul), Rabu (20/8) pada acara media gathering yang dihadiri puluhan jurnalis  berlangsung di hotel JnB, jalan Pramuka No 3 Muara Teweh.



Ia mengemukakan, produksi minyak bumi Indonesia sekarang hanya rata-rata 800 juta barel per tahun dibandingkan dengan konsumsi  BBM mencapai 1,5 juta barel pertahun, angka konsumsi BBM tersebut terus meningkat dari tahun ke tahunnya.
Menurut Yanin, jika tidak ada ekplorasi migas, maka tidak akan data penemuan baru cadangan migas, sehingga tidak akan ada tambahan produksi migas dimasa yang akan datang, sementara itu produksi migas Indonesia sejak tahun 1995 terus menurun, hingga sekarang produksi Indonesia hanya berkisar 800 juta barel saja pertahun, pada priode yang sama upaya  eksplorasi sangat rendah ditambah lagi kondisi lapangan dan non teknis yang cenderung kurang kondusif.
Dijelaskannya, ladang migas Indonesia yang saat ini berproduksi hanya 73 wilayah kerja, lebih dari 300 wilayah kerja lainnya, masih pada tahap eksplorasi dan ada pula yang tidak aktif, ladang migas tersebut tersebar di Jawa, Sumatera dan sebagian di Kalimantan.
Khusus untuk wilayah kerja di Kalimantan dan Sulawesi  hanya terdapat 123 wilayah kerja yang produksi hanya 18 wilayah kerja saja, sementara sementara yang lainnya masih eksplorasi dan untuk wilayah Kalimantan Tengah terdapat sekitar 18 wilayah kerja, dari jumlah tersebut yang sudah siap produksi baru satu, yaitu yang dikelola oleh Salamander Energy di Karendan.
Humas SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi itu menambahkan,  kegiatan ekplorasi migas memiliki krakteristik yang unik, umunya kegiatan tersebut menggunakan teknologi tinggi dan padat modal disatu sisi dan resiko tinggi disisi lainnya, sehingga yang melakukan bisnis ini di Indonesia umumnya perusahaan asing, karena harus diakui mereka sudah menguasai teknologi, memiliki modal yang banyak dan berani menghadapi risikonya.
Resiko dimaksud adalah apabila kotraktor yang bersangkutan gagal menemukan migas, maka semua dana yang digunakan dalam ekplorasi tidak akan digantikan oleh pemerintah, akan sebaliknya sebaliknya bila kotraktor yang bersangkutan mendapatkan ladang minyak dan memproduksinya, maka semua biaya yang mereka keluarkan akan dibayarkan oleh Negara (cost recovery) dari harga migas yang mereka hasilkan, selain mereka mendapat hak ekonomi lainnya atas ladang migas yang mereka temukan, diantaranya hak bagi hasil dari ladang migas tadi.
Sehingga hamper tidak ada perusahaan nasional yang berani “berjudi” bermain disektor eksplorasi migas, namun demikian bukanlah berarti Indonesia menyerahkan kekayaan alamnya kepada asing, sebab dalam hubungan ini kita (Red.: SSK Migas) sebagai instrument Negara tetap memiliki otoritas yang dominan, keberadaan mereka (Red,: perusahaan asing) hanyalah sebagai kotraktor, regulasinya tetap ditangan Negara selaku regulator. (j/1).